Sorotan Riset Internasional: Mangrove Intelligence. Ketika IoT Bertemu Konservasi Pesisir — Wawancara dengan Prasetyo Wibowo dari PENS dan Musashino University

#ID

Sebagai bagian dari seri berkelanjutan yang menyoroti kolaborasi riset internasional di Asia AI Institute (AAII) dan program Faculty of Data Science (MUDS) Musashino University, Associate Professor Yusuke Takahashi berbincang dengan Prasetyo Wibowo, seorang peneliti dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) yang saat ini menempuh program doktoral di Musashino University. Riset Wibowo yang berjudul "Mangrove Intelligence" menggabungkan IoT sensing, analisis citra berbasis AI, dan semantic computing untuk memantau serta melindungi ekosistem mangrove — benteng alam vital bagi komunitas pesisir di seluruh Asia Tenggara. Karyanya, yang dipresentasikan pada AAII Symposium 2025 di Phuket, Thailand, merupakan contoh sempurna inovasi interdisipliner lintas negara yang menjembatani tantangan lingkungan lokal dengan kecerdasan global.

Figure 1. Prasetyo Wibowo, seorang peneliti dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS)

 

Takahashi: Selamat datang, Prasetyo! Anda menempati posisi yang unik — sebagai dosen di PENS, salah satu politeknik terbaik Indonesia, sekaligus mahasiswa doktoral di Musashino University. Bisakah Anda menceritakan bagaimana Anda menjembatani kedua dunia ini?

Wibowo: Terima kasih, Dr. Takahashi. Latar belakang saya di PENS adalah di bidang teknik elektronika dan teknologi informasi, dengan fokus kuat pada IoT dan sistem embedded. Saya selalu memiliki semangat untuk menerapkan teknologi pada permasalahan nyata, dan ketika saya mengetahui lingkungan riset di Musashino University dan Asia AI Institute, saya melihat peluang yang luar biasa. Konsep semantic computing yang dikembangkan oleh Profesor Kiyoki — khususnya gagasan tentang memberikan makna pada data — sangat beresonansi dengan apa yang ingin saya capai dalam pemantauan lingkungan. Maka saya memutuskan untuk menempuh riset doktoral di sini, sambil tetap menjalankan tanggung jawab pengajaran dan penelitian di PENS.

Takahashi: Proyek riset Anda, "Mangrove Intelligence," memiliki nama yang sangat menarik. Apa sebenarnya proyek ini, dan masalah apa yang ingin Anda pecahkan?

Wibowo: Ekosistem mangrove adalah salah satu aset alam terpenting di Asia Tenggara. Mangrove melindungi garis pantai dari erosi, berfungsi sebagai tempat asuh bagi kehidupan laut, dan menyimpan karbon dalam jumlah besar. Namun, ekosistem ini menghadapi ancaman serius dari polusi, pembangunan pesisir, dan perubahan iklim. Masalahnya adalah pemantauan ekosistem ini selama ini terlalu mahal, terlalu lambat, atau terlalu terputus dari orang-orang yang paling membutuhkan informasi tersebut — komunitas lokal dan pekerja konservasi di lapangan.

Mangrove Intelligence adalah sebuah kerangka kerja cyber-physical yang memperlakukan hutan mangrove sebagai entitas hidup dan menggunakan teknologi untuk "mendengarkan" kebutuhannya. Saya merancang sistem ini berdasarkan konsep yang saya sebut "5 Nature Sensing" — dimodelkan berdasarkan lima indera manusia. Untuk "penglihatan," kami menggunakan drone dengan kamera multispektral untuk menilai kesehatan vegetasi. Untuk "pendengaran," kami memasang sensor bioakustik untuk melacak keanekaragaman hayati. Untuk "perasa" dan "penciuman," kami menggunakan sensor kimia in-situ dan hidung elektronik untuk menganalisis kualitas air, nutrisi tanah, dan polusi udara. Dan untuk "peraba," probe lingkungan mengukur suhu, kelembapan, dan kondisi fisik secara real-time.

Takahashi: Itu cara yang sangat intuitif untuk menjelaskan sistem sensing yang kompleks. Bagaimana data tersebut ditransformasikan menjadi aksi nyata?

Wibowo: Di sinilah kerangka kerja "SPARK" berperan — Sensing, Processing, Actuation, Reinforcement, dan frameworK. Setelah data sensor dikumpulkan di ruang fisik, data tersebut memasuki apa yang kami sebut "Global Semantic Computing Space," di mana model AI memprosesnya. Untuk pemantauan kesehatan, kami menghitung indeks vegetasi seperti NDVI dari citra drone dan mengklasifikasikan area sebagai excellent, good, fair, atau poor. Untuk pemantauan sampah, kami menggunakan model deteksi objek untuk mengidentifikasi dan menghitung berbagai jenis sampah — bungkus plastik, kaleng makanan, styrofoam — dan memetakan lokasinya dengan koordinat GPS.

Namun data saja tidak cukup. Inovasi kunci adalah menghubungkan kecerdasan ini dengan aksi manusia. Kami mengembangkan protokol "4-Step Human Action": Temukan (Find) sampahnya, Ambil (Pickup), Dokumentasikan dengan foto (Shoot), dan Bersihkan (Clean) areanya. Kemudian kami membandingkan data sebelum dan sesudah untuk mengukur dampak nyata dari kegiatan konservasi. Ini menutup loop antara ruang cyber dan ruang fisik.

Takahashi: Anda menyebutkan studi lapangan di Surabaya dan Bali. Bisakah Anda berbagi beberapa hasil konkret?

Wibowo: Kami telah melakukan kerja lapangan ekstensif di kawasan mangrove Wonorejo di Surabaya dan Teluk Benoa di Bali. Di Wonorejo, kami menerbangkan drone untuk menangkap citra multispektral pada Agustus 2025 dan menggunakan sistem deteksi sampah kami untuk membuat peta risiko spasial. Setiap titik data mencakup koordinat GPS, jumlah sampah, dan skor risiko dari 0 hingga 5. Kami memvisualisasikan ini sebagai vektor spasial heksagonal pada peta, yang langsung menunjukkan kepada pelaku konservasi di mana titik-titik kritis berada — di mana upaya pembersihan harus diprioritaskan.

Di Teluk Benoa, analisis satelit kami mencakup lebih dari 920.000 meter persegi. Kami mengklasifikasikan 7.991 area sebagai sehat, mengidentifikasi 9 area dengan moisture stress, 57 dengan encroachment, dan 8 dalam kondisi collapse. Jenis penilaian yang granular dan berbasis bukti seperti ini sebelumnya mustahil dilakukan pada skala ini dengan sumber daya yang terbatas.

Takahashi: Ini terhubung dengan indah dengan proyek Semantic Microscope yang dipresentasikan oleh Profesor Kiyoki dan Dr. Uraki pada simposium yang sama. Bagaimana Anda melihat hubungan riset Anda dengan kerangka kerja yang lebih luas tersebut?

Wibowo: Tentu saja — koneksinya bersifat fundamental. Semantic Microscope menyediakan landasan teoretis tentang bagaimana kita "memfokuskan" pada data yang penting. Dalam kerangka kerja Profesor Kiyoki, sudut pandang ahli dikuantifikasi melalui lima elemen yang dapat di-store, di-share, dan di-switch — persis seperti mengatur mikroskop. Dalam Mangrove Intelligence, ketika kami memutuskan untuk fokus pada kesehatan vegetasi versus distribusi sampah, pada dasarnya kami sedang men-switch "lensa" semantic microscope kami. Kombinasi modalitas sensing dan konteks analitis yang kami terapkan merepresentasikan dengan tepat "data focusing options" yang diformalisasi oleh Semantic Microscope. Riset mangrove kami, dalam banyak hal, merupakan aplikasi dunia nyata dari filosofi tersebut — mengubah insight lokal dari ekosistem pesisir Indonesia menjadi kecerdasan yang dapat dibagikan secara global.

Takahashi: Yang sangat mengesankan dari riset Anda adalah bahwa ini pada dasarnya tentang menciptakan dampak sosial — bukan sekadar menerbitkan paper, tetapi benar-benar mengubah cara komunitas melindungi lingkungan mereka. Saya melihat koneksi yang mendalam di sini dengan DNA kedua institusi kita. Saya sering menyebut PENS sebagai "Stanford-nya Indonesia" — peringkat pertama nasional dalam inovasi, dan seperti Stanford, PENS berada di persimpangan antara keunggulan engineering dan energi kewirausahaan. Saya sendiri berasal dari Keio University Shonan Fujisawa Campus (SFC), yang didirikan dengan filosofi serupa — menjembatani berbagai disiplin untuk dampak sosial — dan saya menghabiskan bertahun-tahun di Silicon Valley membangun startup. Dan di sini di MUDS dan MIDS, Dekan Kiyoki selalu menekankan bahwa data science adalah sains yang ditakdirkan untuk menciptakan dampak pada masyarakat — bukan sekadar tentang algoritma, tetapi tentang membayangkan fenomena dunia nyata dan memberikan makna pada data sehingga dapat mentransformasi komunitas dan industri. Dalam pengertian itu, PENS, SFC, Silicon Valley, dan MUDS/MIDS semuanya berbagi komitmen fundamental yang sama: semuanya untuk inovasi sosial. Apa yang secara pribadi mendorong Anda? Apa motivasi yang lebih dalam di balik Mangrove Intelligence?

Wibowo: Itu pertanyaan yang sangat penting, dan saya pikir Anda telah mengartikulasikan sesuatu yang saya rasakan tetapi belum pernah saya ungkapkan dengan tepat. Ketika saya pertama kali mulai bekerja dengan mangrove, bukan karena saya tertarik pada ilmu lingkungan per se — melainkan karena saya melihat komunitas di Surabaya yang tinggal persis di sebelah ekosistem ini, menderita akibat erosi pantai dan polusi, dan saya berpikir: "Saya seorang engineer. Saya punya alat untuk membantu. Mengapa saya tidak melakukannya?" Itulah entrepreneurial mindset yang Anda gambarkan — bukan kewirausahaan dalam arti mendirikan perusahaan, tetapi dalam arti melihat masalah, mengambil tanggung jawab, dan membangun solusi.

Yang membuat saya bersemangat tentang koneksi PENS-Musashino adalah persis filosofi bersama ini. Di PENS, kami dilatih untuk membangun hal-hal yang bekerja — sistem nyata, hardware nyata, deployment nyata. Tetapi melalui riset doktoral saya di sini, saya belajar berpikir lebih dalam tentang mengapa sistem-sistem itu penting, bagaimana memberikan makna semantik pada data yang dihasilkan, dan bagaimana merancang riset yang menciptakan nilai sosial yang bertahan lama. Persamaan "{Your Expertise} × AI = Innovation" yang dipromosikan MIDS bukan sekadar slogan — itu menggambarkan persis apa yang saya lakukan. Keahlian saya di IoT dan sistem embedded, dikalikan dengan kemampuan AI dan semantic computing yang saya kembangkan di Musashino, menghasilkan jenis kecerdasan baru untuk konservasi pesisir yang sebelumnya tidak ada.

Dan saya pikir inilah yang membuat kolaborasi antara PENS dan Musashino begitu istimewa. Kedua institusi percaya bahwa teknologi tanpa tujuan sosial itu tidak lengkap. Baik itu visi Profesor Kiyoki tentang data science sebagai "sains yang memberi nama pada angka," maupun budaya PENS dalam membangun inovasi yang memecahkan masalah nyata, dorongan yang mendasarinya sama: kita melakukan riset untuk membuat dunia lebih baik.

Takahashi: Saya sangat setuju. Dan saya pikir DNA bersama itulah yang menjadi alasan mengapa mahasiswa dan peneliti kita menciptakan sinergi yang begitu kuat ketika mereka bekerja sama lintas negara. Nah, di luar riset, Anda juga sangat terlibat dalam kehidupan di Musashino University. Ceritakan tentang pengalaman tersebut.

Wibowo: Waktu saya di Musashino University telah mengubah saya dengan cara yang tidak saya duga. Saya bertugas sebagai Teaching Assistant (TA) untuk mata kuliah data science tingkat sarjana, yang memberikan saya jendela yang indah untuk melihat bagaimana mahasiswa Jepang mendekati proses belajar. "Vibe" kelas di sini berbeda dari Indonesia — mahasiswa di sini sangat fokus dan disiplin, dan saya telah belajar banyak pendekatan pedagogis yang ingin saya bawa kembali ke PENS.

Saya juga mendapat kesempatan luar biasa untuk paparan profesional. Kelompok riset kami mengunjungi kantor pusat JR East, di mana kami mengeksplorasi bagaimana data science diterapkan dalam infrastruktur transportasi. Dan tentu saja, sisi sosialnya sangat menyenangkan — merayakan tahun baru dengan teman-teman lab, menjelajahi kuil dan situs bersejarah di seluruh Jepang. Pengalaman-pengalaman ini menciptakan ikatan yang melampaui kolaborasi akademis.

Takahashi: Dari perspektif Anda sebagai seseorang yang hidup di kedua dunia akademis Indonesia dan Jepang, nilai unik apa yang Anda lihat dalam kemitraan PENS-Musashino, terutama dengan program MIDS baru yang diluncurkan pada April 2026?

Wibowo: Saya pikir kemitraan ini sangat powerful karena mempertemukan kekuatan yang saling melengkapi. PENS unggul dalam engineering, IoT, dan inovasi teknis langsung — PENS menduduki peringkat pertama di Indonesia untuk inovasi. Musashino University, melalui MUDS dan program MIDS yang baru, membawa keahlian kelas dunia dalam semantic computing, metodologi data science, dan budaya riset yang sangat internasional melalui AAII. Ketika Anda menggabungkan keterampilan engineering mahasiswa PENS dengan filosofi "{Your Expertise} × AI = Innovation" dari MIDS, Anda menghasilkan peneliti dan praktisi yang dapat memecahkan masalah dunia nyata yang tidak dapat ditangani oleh satu institusi saja.

Program double degree antara PENS dan MIDS adalah sebuah game-changer. Mahasiswa dapat memperoleh gelar dari PENS maupun Musashino University, mendapatkan paparan terhadap dua budaya akademik dan tradisi riset yang sangat berbeda. Bagi mahasiswa Indonesia, ini membuka pintu ke ekosistem teknologi Jepang. Bagi mahasiswa Jepang, ini menawarkan koneksi langsung ke salah satu pusat inovasi paling dinamis di Asia Tenggara.

Takahashi: Sebagai penutup, apa langkah selanjutnya untuk Mangrove Intelligence, dan saran apa yang Anda berikan kepada mahasiswa yang mempertimbangkan riset lintas negara seperti ini?

Wibowo: Untuk Mangrove Intelligence, langkah selanjutnya adalah memperluas jaringan sensing ke lebih banyak lokasi di Indonesia dan berpotensi ke Thailand, berdasarkan kolaborasi yang kami bangun di AAII Symposium di Phuket. Kami juga sedang mengembangkan sistem agar lebih mudah diakses oleh komunitas lokal — mengembangkan aplikasi mobile yang dapat digunakan siapa saja untuk berpartisipasi dalam protokol 4-Step Action. Visinya adalah menciptakan platform di mana pengetahuan lokal dari komunitas di seluruh Asia mengalir ke dalam sistem kecerdasan bersama untuk konservasi pesisir.

Saran saya untuk mahasiswa sederhana: jangan takut untuk "mengotori kaki" — secara harfiah maupun kiasan. Riset terbaik lahir ketika Anda menggabungkan teknologi mutakhir dengan passion sejati terhadap masalah yang ingin Anda pecahkan. Dan kolaborasi internasional bukan hanya tentang berbagi paper — ini tentang membangun hubungan, memahami budaya yang berbeda, dan melihat karya Anda sendiri melalui perspektif baru. Program seperti MIDS memungkinkan hal itu sejak hari pertama, dan saya secara pribadi dapat mengatakan bahwa pengalaman antara PENS dan Musashino University ini telah mengubah tidak hanya riset saya, tetapi cara saya memandang dunia.

Takahashi: Terima kasih banyak, Prasetyo. Riset Anda adalah perwujudan sempurna dari misi "Local Insights to Global Intelligence" kami — mengambil pengetahuan mendalam tentang ekosistem pesisir Indonesia dan mengubahnya menjadi kerangka kerja yang dapat memberi manfaat bagi komunitas di seluruh dunia.

Wibowo: Terima kasih, Dr. Takahashi. Saya bersyukur menjadi bagian dari komunitas ini, dan saya menantikan untuk menyambut generasi pertama mahasiswa MIDS dalam perjalanan yang mendebarkan ini.

 

Riset Prasetyo Wibowo tentang Mangrove Intelligence dipresentasikan pada AAII Symposium 2025 di Phuket, Thailand (13 November 2025), dan baru-baru ini pada MIDS Information Session "Local Insights to Global Intelligence" di PENS, Surabaya (6 Februari 2026). Risetnya merupakan bagian dari program riset kolaboratif yang lebih luas antara PENS, Faculty of Data Science Musashino University (MUDS), MIDS yang baru didirikan, dan Asia AI Institute (AAII), yang menghubungkan para peneliti di Indonesia, Jepang, dan Thailand untuk mengatasi tantangan global melalui data science dan semantic computing.

Untuk informasi lebih lanjut tentang kolaborasi riset dan kesempatan peneliti tamu di MUDS dan AAII, silakan hubungi kami melalui muds.ac/contact.

Yusuke Takahashi PhD

Entrepreneur, Computer Scientist, Cycle Road Racer, Beer Lover, A Proud Son of My Parents, Husband, Father, Trail Runner

https://medium.com/@aerodynamics
Previous
Previous

HAPPY DATA HOUR — 有明から世界へ

Next
Next

International Research Spotlight: Mangrove Intelligence. When IoT Meets Coastal Conservation — An Interview with Prasetyo Wibowo from PENS and Musashino University